August 11, 2015

Sore itu di tempat parkir milik kampus, aku sejenak menikmati dedaunan yang mulai gugur. Seolah terhipnotis dengan rerontokan daun jambu. Panas matahari sore itu terhalang oleh Beringin tua yang berada persis di depan tempat aku memarkirkan motor. Harusnya sejak sejam yang lalu aku sudah bersiap pergi ke kota sebelah untuk bekerja. Namun rasa posesifku pada rumah membuatku berlama-lama…
“Hei! Tunggu disitu! Jangan bergerak dulu!” sebuah suara yang sangat ku hafal memecah lamunanku. Sebuah suara yang sudah lama sekali tidak pernah kudengar.
Hai, selamat bertemu lagi.
Aku sudah lama menghindarimu, sial ku lah kau di sini
“Kamu apa kabar Nda? Lama banget ngga ketemu, sibuk apa sekarang? Udah jadi mahasiswa lama jarang ke kampus ya?” tanyamu heboh, seperti biasa.
“masih gini aja sih mas, Alhamdulillah. Aku lagi magang sekarang. Kamu apa kabar mas?”
“lagi sibuk ngurus yudisium aja sih, yah.. disambi cari pendaming wisuda sih! By the way, kenalin aku sama temen-temenmu dong, kali ada yang nyangkut..” senyum itu masih sama cerahnya dengan senyummu dua tahun lalu. Senyum saat pertama kita bertemu. Senyummu yang ramah. Senyummu yang mengantarku pada mood baik hari itu. Senyummu yang sialnya dapat dinikmati semua orang, dengan mudahnya. Senyummu yang sialnya bukan hanya untukku.
Sungguh tak mudah bagiku. Rasanya tak ingin bernafas lagi. Tegak bediri di depanmu kini..
“boleh aja sih, tapi denger-denger kemarin ada yang abis kenalan sama cewek kota sebelah mas, gimana tuh kabarnya?” Tolong. Tolong jangan cerita tentangnya lagi, seperti apa yang selalu kau lakukan padaku. Aku tidak benar-benar ingin tau kisah indahmu dengannya andai kau tau.
“hehe kita udahan Nda.. terlalu jauh ternyata. Dan mungkin memang kita gak cocok? Who knows, but it felt like it wasn’t worth to be fought.” Katamu sambil menggaruk belakang kepala. Selalu seperti itu kalau kau merasa risih akan sesuatu.
“Jadi kapan kamu wisuda Mas?” kucoba mengalihkan topik pembicaraannya.
“well, kalo semuanya lancar kemungkinan aku bisa ikut yang bulan depan nih! Kamu dateng lho ya, awas kalo ngga dateng lagi kaya pas aku sidang”
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil apabila kau muncul terus begini, tanpa pernah kita bersama.
Pergilah,menghilang sajalah..
“diusahakan komandan! Tapi aku sekarang sibuk banget loh.” Ah, dia masih ingat ternyata.. aku memang memilih tidak datang kala itu.
“sombong banget sih anak magang! Ayolah main bareng lagi, sekalian kenalin aku sama temen-temenmu..”
“huuu mentang-mentang sarjana. Kamu mau dikenalin yang kayak gimana sih mas?” Sekali lagi, tolong jangan dijawab mas. Aku tidak benar-benar bertanya..
“pokoknya calon insinyur, dan sayang sama aku. Ada ngga?”
“ya ngga ada lah mas! Yang kenal kamu aja ngga ada mas.” Aku mas. Tapi mana mungkin kujawab begitu.
“huh kon saiki kok mayak* sih Nda!”
“ya makanya jangan kebanyakan minta mas, lagian santai aja kenapa sih.. if it’s mean to be it will be kok. Ngga ada juga kali yang mau ambil jodohmu, mas”
“adik kecil ngga usah sok dewasa deh. kuliah aja sana yang bener, jangan main pacar-pacaran dulu yah..” lalu tanganmu menjulur. Mengacak-acak rambutku seperti yang selalu kamu lakukan saat memberiku wejangan-wejangan.
“Ih apaan sih! Udah sana pergi deh, katanya mau ngurus yudisium..” kutepis tangannya pelan. Bukannya aku ngga mau jadi adikmu, tapi…
“wah bener juga kamu! Yaudah aku pergi dulu ya Nda.” kemudian ia berlari menuju gedung kuliahnya. Tepat di depan pintu masuk, lalu berhenti, berbalik dan melambaikan tangannya,
“Yang semangat magangnya Nda!!!”
Aku balas melambaikan tanganku sambil tertawa karena tingkahnya. Terus kulambaikan tanganku hingga ia berbalik lagi lalu berlari.
Kusaksikan punggungnya menjauh.
Bye, selamat berpisah lagi..
Meski masih ingin memandangimu, lebih baik kau tiada di sini…
-fin.
*mayak : kurang ajar (Suroboyoan)

No comments:

Post a Comment